monotomi waktu

Malam ini..ya malam ini..harusnya menjadi malam yg
menyenangkan..malam akhir pekan yg selalu ditunggu dan dihitung mundur di awal
minggu oleh para imigran sebangsa..malam yg bisa menjadi sangat panjang karena
aktivitas duniawi yg menggoda..

Tidak untukku kali ini..

Celah otakku mulai terkoyak lg..tidak terlalu dalam namun
mampu membuatku bertanya keakuanku kembali. Untuk apa aku dibangkitkan dari ruh
menjadi raga? Mau aku bawa kemana jiwaku setelah 22 tahun?

Aku mulai menyadari bahwa selama 2 bulan aku tidak bergerak!
Monoton dengan limit menuju tak hingga!

Keseharianku mulai terasa sebagai robot2 industri kapitalis
yg bergerak tanpa berpikir atau hanya berpikir tanpa bisa keluar dari sistem

Tidak ada lagi saat2 aku bisa memperdebatkan sesuatu,
mempertanyakan hal2, menyusun rencana, dan berusaha mendobrak sistem (was i??..
Well at least, I’ve tried to be..)

Aku tumpul! Aku mulai memasuki zona nyaman dimana itu dapat
menyumbat pembuluh adrenalin dan darah segar ke otak

Aku bukan lagi minoritas-kreatif yg punya banyak ide
(actually belum minoritas-kreatif sempurna)

Bukan berarti aku tidak tertantang dengan hidupku
sekarang..hanya saja, jika dibandingkan dengan 2 tahun kebelakang, aku bukanlah
apa2 sekarang

Teringat satu perbincangan dengan beberapa kawan, bahwa
every human being has its own propechy and we have to fulfill it before die

But I still don’t know mine yet..mungkin aku harus berputar
jauh dulu sebelum mengetahuinya dan dapat melaksanakannya

Karna itulah yang akan diberikan Tuhan pada umatnya jika dirasa
mereka sudah layak

Aku yang saat ini sedang mengetik mungkin adalah pendosa
atas penganugerahan otak pada manusia. Mungkin dengan atau tanpa otak, aku
masih bisa berjalan

Beberapa bintang yg nampak dilangit hanya memandangiku tanpa
dapat memberikan titik terang

Mereka mungkin tahu aku mampu..melewati segmen hidup seperti
ini mungkin satu keharusan bagiku menurut mereka..tahu apa mereka?

Sedikit sketsa

sana

sini mungkin dapat menjadi jalan pembuka atas fungsi otakku

Beberapa majalah asing, buku2 dari dimensi lain, mungkin
juga bisa

Tapi semua jawabannya akan berpulang padaku sebagai
pengendali waktu hayatku

                     “Light will guide me home..i must try to fix me..”

Ditemani segelas vodka-gin-tonic..

Beberapa batang rokok..

 

 

 

3 Responses to “monotomi waktu”

  1. ART Says:

    aduh kecian abang yang satu ini..
    tenang,dit..kan waktu yang ngerjain itu sudah ditemani beberapa hiu yang bisa diajak diskusi..yah walaopun tetang paha putih gratis yang bisa diliat di MRT..

    memang KAPITALIS..

  2. Andit ganteng Says:

    wah kacaw ni, hiu2 mule migrasi
    bosan dg perairan lokal
    mencari arus yg lebih hebat
    mari poroskan dunia dg idealisme kita!!

  3. fE Says:

    dih

Leave a Reply